|
Lagi dan lagi, tentang rasa ini… |
|
|
|
|
Thursday, 21 May 2009 09:11 |
|
 Memaknai kehidupan ini diantara episode demi eisode yang menggilir keceriaan dan kedukaan. Tidak selalu hal menyenangkan itu indah, dan itu yang kini terjadi. Menjadi sebuah ketakutan jangan - jangan ini adalah bagian dari kufur nikmat, ketika semua asa telah ada digenggaman tak jua meletupkan rasa puas. |
|
Last Updated on Tuesday, 02 June 2009 15:13 |
|
Read more...
|
|
|
Meraba ketulusan, adakah bagian yang hilang? |
|
|
|
|
Monday, 18 May 2009 15:19 |
|
Meraba ketulusan, masih utuhkah?, atau ada bagian yang hilang?. Ketika tiba – tiba rasa yang tak biasanya menyeruak dari tempat terdalam sanubari, menyentil kepekaan jiwa seiring jatuhnya kesadaran. Sempat terpikir… mungkin hanya imajinasi rasa yang ingin sejenak bermain – main ditengah rutinitas yang kadang memahat kreativitas. Namun semakin diselami, semakin dalam menenggelamkan pengembaraan pikiran. |
|
Last Updated on Tuesday, 02 June 2009 15:13 |
|
Read more...
|
|
Ketulusan yang Tidak Terbaca |
|
|
|
|
Friday, 08 May 2009 16:03 |
|

Di matanya, dunia ini semakin terasa asing baginya. Di mana ketika kejujuran sudah dianggap sebagai kebodohan. Ketulusan seolah sudah menjadi barang langka yang sulit ditemukan dalam hidup ini. Betapa mahalnya sebuah ketulusan untuk bisa diberikan dan didapatkan. Karena ketika mencoba melakukannya, seringkali dipatahkan oleh dugaan yang keliru dari ketulusan tersebut. Rasa sakit pun terkadang terberi dalam ketulusan, yang ikut menghasut menepikan nurani. Lalu haruskah mempertahankannya ketika terus dipatahkan? Lalu ia pun terkadang memilih diam mencoba mengerti. Ketulusan layaknya membisu. Karena ketulusan tidak bersuara, ia bekerja dalam diam, tapi memberi dengan sepenuh hati. Ia bekerja tanpa pamrih, melupakan dan tanpa mengerti arti meminta. Hanya memberi tanpa berharap diberi. Ia halus dalam kasat mata, tak tertangkap indera. Karena ketika menampakkan ketulusan itu, maka akan mengurangi arti ketulusan itu sendiri. Maka ia mengendap-endap dalam sunyi, melangkah, dan memberi dalam gelap yang tidak engkau sadari. Ya, ia telah berdo'a untukmu. |
|
Last Updated on Monday, 18 May 2009 10:53 |
|
Read more...
|
|
|
Tuesday, 12 May 2009 20:40 |
|
 Jam dinding menunjukkan pukul 10 pagi lewat beberapa menit saat sepupu saya yang duduk di bangku SD kelas dua tiba dari sekolah dengan sepedanya. Masih dari jalan depan rumah, ia sudah berteriak lantang memanggil ibunya, tante saya, meminta uang dua ribu rupiah. Hanya dua ribu rupiah memang, tetapi untuk anak kecil seusianya yang tinggal di sebuah kampung kecil, uang sejumlah itu nilainya sudah cukup besar. |
|
Last Updated on Monday, 16 November 2009 08:12 |
|
Read more...
|
|
Aku yang Kini Tertohok Rasa… |
|
|
|
|
Wednesday, 06 May 2009 22:12 |
|
 Mengelola setiap jatah takdir dari galau yang kadang tak beralasan, dari sisa muhasabah yang sering meinggalkan jejak penyesalan. Memungut kepingan – kepingan laku diri yang terhempas di pelataran jiwa. Membingkai secuil asa dari rajutan niat yang sering merenggangkan jejaring yang mengfilter penyakit hati. Membidik rasa dalam kesempatan kebersamaan. |
|
Last Updated on Tuesday, 02 June 2009 15:14 |
|
Read more...
|
|
|
|
|
|
|
Page 4 of 6 |