Home Artikel Kajian Production House Islam, Pentingkah?
Production House Islam, Pentingkah? PDF Print E-mail
Written by sodikin   
Monday, 28 December 2009 18:36

 

Membangun Production House Islam

 

Televisi sebagai sebuah media sudah barang tentu snagat memberikan pengaruh yang besar bagi penontonnya. Bukan lagi pada hitungan hari atau jam namun pada hitungan detik. Begitu sangat berharganya waktu bagi sebuah stasiun TV. Kita bisa melihat dari harga sebuah iklan yang disiarkannya. Dengan durasi yang hanya 30 detik bisa bernilai sampai 15 juta. Artinya bisa dibayangkan betapa sangat berharganya waktu bagi sebuah TV. Jika 30 detik saja bisa bernilai 15 juta berrati jika sebuah acara TV mengudara selama 20 jam dengan porsentase iklan adalah 25% maka akan dihasilkan angka 5 jam satu hari untuk slot iklan. Artinya apa?, akan ada sebanyak 3600 detik x 5 jam = 18.000 dtk iklan/hari. Atau senilai 18.000/30 dt ( durasi )x 15 juta=9 milyar/hari. Atau 270 milyar perbulan.

Luar biasa..!! sebuah angka yang sangat besar untuk media.

 

Tidakkah punya misi sebuah media TV?

Dengan angka yang sedemikian besar pada akhirnya muncul sebuah pemikiran. Apa yang sebenarnya dicari oleh pemilik TV dan siapakah para pamain ( pemilik TV )?.

Secara kepemilikan sudah barang tentu yang memiliki TV dengan modal yang sangat besar tersebut para pemodal besar. Yang sudah barang tentu yang dia cari adalah keuntungan materi ( kapitalis)

 Sedangkan pembuat program adalah para pengusaha-pengusaha PH (Production House ) yang sudah barang tentu yang dia fikirkan adalah program yang menarik dan di suka oleh para penoton. Tidak peduli itu Ghibah, Fitnah, mengandung pornografi atau juga tidak mendidik.

Sehingga pada akhirnya munculah program-program infotaiment; Gosib, Was-Was, Kasak-Kusuk, KISS, Cek Ricek, Silet, Info Selebritis dan seabrek lagi acara info tainment yang lain.

Untuk acara film kita juga bisa lihat. Sampai sejauh ini tema-tema seputar Hantu, Cinta, Perceraian, Keluarga Broken Home, Perebutan harta, Pembunuhan, Perkelahian dan Sek adalah tema yang ditampilkan saat ini. Kalaupun ada film yang berbau Religi justru isinya malah merusak dan membuat sang penontonya bisa rusak akidahnya.

 

Jadi siap-siap saja jika lambaut laun ummat islam di Indonesia ini menjadi rusak. Karena dia lebih percaya artis dibanding ustad. Dia lebih menyukai acara-acara Infotainment dibanding pengajian. Terus siapa yang bertanggung jawab?

Bagaimana dengan generasi kita nanti?

Apakah akan kita wariskan anak dan cucu kita dengan kehancuran moral di masyarakat?.

Atau justru mungkin kita sebenarnya yang menghancurkan moral anak kita melalui tontonan yang kita tampilkan di TV rumah kita?

Cukupkah dengan berdiam diri.

 

 

 

 

 

Last Updated on Wednesday, 10 March 2010 14:46
 
Banner

Tanggal Hari Ini




Powered by Joomla!. Designed by: Free Joomla 1.5 Template, .idv.tw domain. Valid XHTML and CSS.